WIRAUSAHAWAN SOSIAL DAN PENGENTASAN KEMISKINAN

Oleh : Nandang Mulyana

Kemiskinan merupakan masalah akut yang selalu dihadapi oleh negara berkembang termasuk Indonesia. Data BPS hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional menunjukkan bahwa pada tahun 2008 angka kemiskinan di Indonesia mencapai 34,96 juta jiwa. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan. Sebenarnya pemerintah sudah banyak membat program yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan seprti JPS, PPK, P2KP, sampai PNPM, akan tetapi sampai saat ini belum terlihat hasil yang signifikan. Artinya program tersebut berjalan tetapi belum dapat menekan angka kemiskinan secara signifikan.

Masih tingginya angka kemiskinan tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya SDM usia produktif berada dalam kelaurga miskin yang secara otomatis berada dalam kemiskinan. Padahal sampai saat ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk usia produktif terbesar di dunia. Keadaan ini sangat berbeda dengan Jepang dan Singapura yang justru menjadi negara dengan beban penduduk yang berada pada usia tidak produktif. Data tersebut menjadi tidak berarti pada saat ini karena penduduk usia produktif di Indonesia menjadi beban negara yang disebabkan karena faktor kemiskinan. Dengan banyaknya penduduk usia produktif seharusnya menjadi aset yang dapat digunakan untuk membangun negara ini kearah kemajuan.
Untuk mengatasi masalah kemiskinan tersebut, selain dengan program pengentasan kemiskinan, jufga dengan menumbuhkan jiwa wirausaha dalam masyarakat. Jiwa wirausaha yang dapat dijadikan acuan untuk membentuk negara yang sejahtera masih sangat kurang di Indonesia. Menurut Ir. Ciputra dalam seminar Quantum Leap menjelaskan bahwa saat ini di Indonesia hanya ada 400 ribu wirausahawan. Angka ini sangat tidak ideal untuk dapat mebangkitkan perekonomian Indonesia. Idealnya dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta diperlukan wirausahawan sebanyak 2% dari jumlah penduduk atau sekitar 4 juta wirausahawan.
Terlepas dari masih sedikitnya wirausahawan di Indonesia, yang paling penting adalah masih belum banyaknya justru adalah wirausahawan sosial. Jumlah wirausahawan sosial dalam masyarakat ini tidak pernah tercatat, karena wirausahawan sosial dalam bekerja tidak mementingkan popularitas melainkan bagaimana dapat memberdayakan masyarakat sehingga masyarakat dapat mandiri.

Mengapa Harus Wirausahawan Sosial ?
Berbeda dengan Ir. Ciputra yang menekankan perlunya wirausahawan dalam membangun Indonesia, menurut hemat penulis justru yang paling perlu adalah wirausahawan sosial dalam mengentaskan kemiskinan. Wirausahawan seperti yang dikatakan oleh Ir. Ciputra berbeda dengan wirausahawan sosial. Wirausahawan lebih kepada bussiness entrepreneur yang berusaha untuk menciptakan wajah baru dalam dunia bisnis, ide-ide segar untuk meraih pasar, dan gagasan cemerlang untuk memuaskan konsumen. Wirausahawan lebih menekankan untuk membuka pasar sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Akan tetapi titik tekan tetap pada bagaimana untuk menghasilkan laba atau keuntungan dari kegiatan tersebut.
Hal berbeda tentunya dengan wirausahawan sosial. Seelos & Mair (2004)
mendefinisikan wirausahawan sosial “sebagai suatu kemampuan individu untuk melakukan terobosan yang inovatif yang selanjutnya dikembangkan untuk mengatasi permasalahan sosial dalam masyarakat”. Selanjutnya Hobbert, Hogg (2004) melihat bahwa wirausahawan sosial mencoba memanfaatkan perilaku entrepreneur yang lebih mengedepankan misi atau kebutuhan sosial daripada orientasi laba. Berdasarkan definisi tersebut terlihat bahwa wirausahawan sosial mempunyai orientasi yang berbeda dengan bussiness entrepreneur. Wirausahawan sosial mencoba membantu masyarakat dengan ide kreatifnya untuk mengatasi masalah sosial yang ada. Orientasi laba bukanlah tujuan utama dari wirausahawan sosial.
Ditinjau dari kegiatan yang dilakuakn dalam kewirausahaan sosial, ada tiga kegiatan yang dilakukan oleh wirausahawan sosial yaitu pertama, kegiatan yang dilakukan tidak bertujuan untuk mencari laba. Kedua, kegiatan yang dilakukan merupakan bisnis dengan tujuan sosial. Ketiga kegiatan wirausahawan sosial merupakan kegiatan perpaduan antara bisnis sosial tetapi tidak mencari laba. Titik tekan dari ketiga kegiatan dari wirausahawan sosial itu dapat berupa bisnis dengan tujuan sosial serta tidak berorientasi kepada pencarian keuntungan. Sebenanya wirausahawan sosial bukan tidak mencari keuntungan akan tetapi kebermanfaatan kegiatan tersebut bagi masyarakat merupakan tujuan utama. Kegiatan-kegiatan inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat miskin agar dapat membentu mengentaskan kemiskinana tersebut.
Contoh paling nyata dari wirausahawan sosial adalah Muhammad Yunus dengan Garmeen Banknya. Garmeen Bank memberikan kredit mikro tanpa agunan bagi masyarakat miskin. Yunus dengan Garmeen Banknya mencoba mebangkitkan kesadaran masyarakat akan masalah yang dihadapinya serta mencoba menberikan solusi dengan mengucurkan kredit tanpa agunan. Mengapa Yunus memberikan solusi dengan memberikan kredit?. Inilah filosofi bagi wirausahawan sosial. Yunus beranggapan bahwa sedekah yang diberikan baik oleh itu oleh orang kaya maupun pemerintah akan merampas insentif orang miskin, mengerdilkan kreatvitasnya dan merampas harga diri mereka. Jadi dengan demikian masyarakat miskin itu bukanlah diberi bantuan materi semata, akan tetapi juga harus disadarkan bahwa mereka berada dalam masalah, serta memberikan solusi utnuk mengatasi masalah tersebut.
Sedangkan program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia cenderung memberikan bantuan semata. Pemberian BLT, JPS, PPK, sampai PNPM memperlihatkan bahwa program tersebut hanyalah memberikan bantuan tanpa menciptakan wirausahawan sosial yang menyertainya. Akibatnya bantuan itu menguap begitu saja tanpa ada perubahan dalam masyarakat yang signifikan. Demikian juga dengan perusahaan baik itu BUMN maupun swasta dengan program CSR maupun PKBL lebih cenderung untuk memenuhi ketentuan UU.
Sebenarnya jika dilihat lebih mendalam wirausahawan sosial di Indonesia itu sudah ada walaupun dalam lingkup masih kecil. Tri Mumpuni dengan listrik sederhananya mampu untuk menerangi desa sekitar yang belum tersentuh oleh listrik PLN bahkan dapat menjual listrik tersebut ke PLN dengan harga yang lebih rendah. Lingkup yang lebih kecil lagi adalah kiprah Djuariah bersama ibu-ibu disepanjang jalur Sungai Cikapundung mendaur ulang sampai yang ada dilingkungan sekitarnya menjadi barang yang dapat menanbah pendapatan masyarakat. Dari contoh tersebut terlihat bahwa wirausahawan sosial yang bergerak untuk mengentaskan kemiskinan itu sudah ada di Indonesia. Akan tetapi jumlahnya masih sangat sedikit serta seringkali tidak dilibatkan dalam program pengenatasan kemiskinan. Faktor penyebab yang paling nyata adalah syarat administrasi yang berupa pendidikan formal untuk dapat terlibat dalam program pengentasan kemiskiinan.
Menciptakan wirausahawan sosial sebenarnya gampang-gampang susah. Munculnya wirausahawan sosial dapat dengan sendirinya. Artinya dalam individu tersebut muncul empati terhadapa masalah sosial yang ada disekitarnya, sehingga akan berkorban untuk membantu masyarakat untuk mencari solusi mengatasi masalah sosial yang ada. Akan tetapi wirausahawan sosialpun dapat diciptakan dari lembaga pendidikan. Di inggris itu wirausahawan sosial dididik dari lembaga pendidikan formal sampai jenjang S 2. Tujuannya jelas bahwa untuk menyelesaikan masalah sosial yang ada dalam masyarakat tidak selalu bergantung pada program pemerintah.
Jika kembali dihubungkan dengan pengentasan kemiskinan, seharusnya bukan melulu program pengentasan kemiskinan itu berhubungan dengan pemberian bantuan dana. Program-program pengentasan kemiskinan tersebut harus juga dibarengi dengan penciptaan wirausahawan sosial dari masyarakat yang mempunyai masalah sosial tersebut. Wirausahawan sosial dari masyarakat tersebut berfungsi sebagai penggerak bagi usaha mengatasi masalah sosial yang ada. Dampaknya diharapkan masyarakat sadar bahwa mereka mempunyai masalah sosial serta adanya solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Penulis : Sekretaris Laboratorium Kesejahteraan Sosial dan Dosen pada jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP-UNPAD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s