Vaksinasi Meningitis Untuk Calon Jamaah Haji Dalam Pandangan Hukum Islam

By : tamam.elva`s_row@ny

Ada yang berbeda dengan musim haji tahun 2009 ini. Kalau biasanya para calon jamaah haji begitu senang ketika dia mendapatkan kepastian berangkat ke tanah suci, justru pada musim tahun ini mereka resah. Pasalnya, untuk mendapatkan visa mereka harus melakukan imunisasi meningitis terlebih dahulu. Sebenarnya ketentuan ini sudah berlaku selama beberapa tahun. Yaitu semenjak adanya Nota Kesepahaman Diplomatik Indonesia-Arab Saudi No. 211/94/71/577 tahun 2006. Hanya saja, keresahan itu baru muncul pada tahun ini karena tersebar kabar bahwa vaksin tersebut mengandung enzim babi (porcine).
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan (Depkes) Tjandra Yoga Adhitama mengatakan, selain digunakan jamaah haji Indonesia, vaksin meningitis juga telah digunakan oleh negara-negara lain yang mengirimkan jamaah haji. Misalnya Saudi Arabia, Iran, Nigeria, Yaman, Malaysia, Filipina, Singapura, Pakistan, Bangladesh, Ghana, India, Kazakhstan, Kumait, Libanon, dan masih banyak lagi.

Apakah Meningitis itu?
Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri, ataupun jamur yang menyebar masuk ke dalam darah dan berpindah ke dalam cairan otak.
Banyak ahli kesehatan berpendapat penyebab penyakit meningitis adalah virus yang umumnya tidak berbahaya dan akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun meningitis yang disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh jamur sangat jarang. Jenis ini umumnya diderita oleh orang yang daya tahan tubuhnya menurun seperti pada penderita HIV/AIDS.

Sejauh manakah vaksinasi meningitis diperlukan bagi calon jamaah haji?
Meningitis adalah penyakit menular. Pada tahun 2000 lalu, sebanyak 14 orang jamaah haji Indonesia tertular penyakit ini. Sebanyak 6 orang dari 14 penderita meningitis tersebut meningal di Arab Saudi dengan penyebab kematian meningitis meningokokus serogrup W – 135. Angka tersebut bertambah pada tahun 2001 menjadi 18 penderita dan enam di antaranya meninggal di Arab Saudi.
Arab Saudi memang dikenal sebagai negara endemi penyakit meningitis. Oleh karenanya, untuk melindungi jamaah haji atau umrah dari kemungkinan tertular dan menularkan meningitis kepada orang lain, maka jamaah tersebut perlu divaksinasi meningitis. Mereka yang telah menjalani vaksinasi, akan diberikan ‘kartu kuning’ atau Internacional Certifikate of Veccination (ICV) yang dikeluarkan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) setempat.

Benarkah vaksin meningitis mengandung enzim babi (porcine)?
Berita bahwa vaksin meningitis dicurigai mengandung enzim babi bermula dari sebuah laporan penelitian yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengkajian dan Pengawasan Obat dan Makanan Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI) Sumatera Selatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hasil temuan tersebut kemudian diumumkan kepada publik pada 24 April 2009 oleh Ketua MUI Sumsel KH Sodikun.
Glaxo Smith kline (GSK) sebagai produsen vaksin meningitis yang digunakan oleh Departemen Kesehatan RI, membantah bahwa produknya mengandung unsur babi. GSK menerangkan, bahwa memang pada awalnya mereka menggunakan enzim babi sebagai katalisator dalam proses pembuatan vaksin meningitis (”Old” Mencevax TM ACW 135 Y). Namun hal ini tidak dilakukan lagi pada proses pembuatan vaksin meningitis yang baru (NEW” Mencevax TM ACW 135 Y) yang digunakan sejak akhir tahun 2008.
Klaim GSK ini ternyata hanya isapan jempol belaka. Dalam presentasi GSK di hadapan sejumlah lembaga terkait, terungkap bahwa pembuatan vaksin meningitis ternyata masih menggunakan enzim babi.
“Meski pada hasil akhirnya vaksin meningits itu tak lagi mengandung enzim babi, namun dalam prosesnya masih menggunakan enzim babi,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Umar Shihab, kepada Republika , Jumat (22/5). Menurut Kiai Umar, kepastian penggunaan enzim babi itu terungkap saat perusahaan GSK, mempresentasikan proses pembuatan produknya di Gedung Depkes pada Rabu (20/5).
KH. Ma`ruf Amin yang juga Ketua MUI memberikan pernyataan senada, beliau mengatakan: “Walaupun dalam rapat tersebut perusahaan pembuat vaksin telah membantah produknya mengandung unsur babi, tetapi dalam proses pembuatannya mulai dari bahan baku hingga menjadi vaksin ternyata bersentuhan dengan porcine sebanyak tiga kali”.

Kemungkinan Pembuatan Vaksin Bebas Porcine
Adalah Abdulah Mu’nim dan Herman Suryadi, keduanya adalah ahli farmasi dari Univesitas Indonesia (UI), yang melontarkan kemungkinan vaksin meningitis bisa menggunakan enzim yang halal, misalnya dari hewan yang halal atau dari mikroba sendiri.
Sementara di Malaysia, pemerintah negeri itu menjamin penuh vaksin meningitis yang disuntikkan untuk calon jamaah umrah dan haji tak mengandung babi dan tak berkaitan dengan babi. Jaminan itu dikemukakan Wakil Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Rosnah Abdul Rashid Shirlin yang dikutip harian Utusan Malaysia edisi Rabu, (10/6). Menurut Rosnah, vaksin yang dihebohkan di Indonesia tidak terjadi di Malaysia. Vaksin meningitis yang diberikan kepada jamaah haji dan umrah yang dilakukan di Malaysia, katanya, telah diuji dan melalui proses penelitian lebih dulu dan ternyata tidak menimbulkan masalah hingga kini.
Kantor Berita Malaysia, Bernama, edisi Selasa (5/5) lalu memberitakan bahwa Negeri jiran itu telah berhasil membuat vaksin meningitis halal dari enzim sapi. Proses penyembelihan sapi sebagai bahan vaksin juga dilakukan dengan islami.Vaksin baru tersebut akan selalu dan mengharuskan mengikuti prosedur, antara lain, penelitian dan percobaan. Vaksin tersebut baru bisa dipasarkan setelah melewati berbagai prosedur, seperti prosedur jaminan keamanan vaksin, sertifikasi vaksin, registrasi, dan persyaratan umum lainnya. Vaksin tersebut merupakan hasil kerja sama antara Universiti Sains Malaysia (USM) dan Institut Finlay dari Kuba, untuk mengembangkan vaksin meningitis halal, yang telah dimulai sejak dua tahun lalu. Vaksin tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi andalan produksi bioteknologi kedua negara.

Vaksin Meningitis dalam tinjauan hukum Islam
Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkesimpulan bahwa vaksin meningitis produksi Belgia yang digunakan jamaah Indonesia dan puluhan negara lainnya adalah haram.
Berikut ini adalah kutipan pernyataan KH. Ma`ruf Amin, Ketua MUI, pada wartawan Republika usai rapat MUI yang membahas vaksin di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (16/7).
“Keputusannya, bahwa vaksin Meningitis produksi Belgia itu yang digunakan oleh Depkes untuk jamaah haji kita, adalah haram karena mengandung enzim babi… Namun, karena untuk calon jamaah haji intinya wajib harus divaksin karena ketentuan dari pemerintah Arab saudi, maka kita perbolehkan dengan hukum darurat bagi yang berhaji wajib atau pertamakali haji… Namun hukum darurat ini tidak berlaku bagi yang berhaji yang kedua dan seterusnya,”.
Dikatakan KH. Ma’ruf bahwa Fatwa MUI ini sifatnya sementara sampai ditemukan vaksin yang halal. “Atau sampai kebijakan pemerintah Arab saudi yang mengharuskan vaksin meningitis ini dicabut,” tutur Kiai Ma’ruf. “Kami juga merekomendasikan paling lambat tahun 2010, pemerintah sudah harus memperoleh vaksin yang halal atau memproduksi sendiri vaksin yang halal,” tegas Kiai Ma’ruf.

Pada dasarnya saya setuju dengan keputusan MUI tersebut, hanya saja saya kurang sependapat dengan KH. Ma`ruf Amin yang memperbolehkan vaksinasi bagi yang berhaji wajib atau pertamakali haji dengan alasan dhorurot. Menurut hemat saya, dalam masalah ini sama sekali tidak ada dhorurot sehingga dapat diberlakukan kaidah fiqh “Al-Dhorurot Tubih al-Mahdzurot” (keadaan darurat dapat memperkenankan sesuatu yang dilarang). Karena –sebagaimana sudah maklum- ibadah haji adalah ibadah yang bersifat wajib `ala tarokhy, artinya boleh ditunda pelaksanaannya walaupun bagi orang yang sudah mampu.
Dan seandainyapun yang dimaksud dengan dhorurot disini adalah pengertian yang lumrah kita baca di kitab-kitab fiqh, yaitu ancaman gangguan kesehatan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa atau lainnya sehingga dapat memperbolehkan bertayammum (mubih al-tayammum). Keputusan hukum di atas tetaplah tidak akan berubah dengan dua alasan:
Pertama : sebagaimana dijelaskan sebelumnya, vaksinasi dimaksudkan sebagai tindakan prefentif agar jamaah haji terhindar dari kemungkinan tertular dan menularkan meningitis terhadap orang lain ketika berada di Arab Saudi. Sementara untuk kondisi Indonesia, kemungkinan ini hampir tidak ada. Ini berarti hukum dhorurot tidak berlaku bagi para jamaah yang masih berada di Indonesia, walaupun dia tergolong calon jamaah haji wajib. Karena –sebagaimana dipaparkan sebelumnya- kewajiban haji bersifat `ala tarokhy.
Kedua : vaksinasi meningitis dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang halal. Misalnya dengan menggunakan vaksin bebas porcine sebagaimana yang –katanya- digunakan di Malaysia, atau dengan cara-cara alami sbb:
Laksanakan hijamah/bekam 1bulan 1 x (3 bulan berturut-turut sebelum naik haji)
Sangat perlu makan yang segar-segar
Pagi : Wortel 1 gelas, bayam ½ gelas
Siang : Wortel 1 gelas, bit 1/3 gelas, Timun 1/3 gelas
Sore : Wortel 1 gelas, seledri ½ gelas, Bayam 1/3 gelas
Malam : Wortel 1 gelas
Tambahan : Habatusauda, madu, sari kurma
Makanan minuman: Back to nature, tidak msg, vetsin, instan.
Alasan kedua ini semakin melemahkan argumen MUI. Karena diantara syarat diperbolehkannya menggunakan benda najis atau haram sebagai obat adalah apabila pengguanaan benda tersebut merupakan alternatif terakhir.
Adapun apabila cara-cara halal ini tidak mendapatkan pengakuan dari Depkes RI. Maka ini adalah masalah lain yang tidak dapat merubah keadaan normal menjadi darurat atau yang haram menjadi halal.
Walhasil, hukum vaksinasi meningitis menggunakan Mencevax TM ACW 135 Y buatan GSK Belgia adalah haram. Tidak ada alasan mendasar untuk memperbolehkannya dengan alasan darurat, karena memang kriteria darurat belum terpenuhi.

Kriteria darurat sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Ma`ruf Amin mungkin dapat berlaku bagi orang yang berkewajiban menunaikan ibadah haji sesegera mungkin (man wajaba `alaihi al-hajj fauron), disebabkan oleh nadzar atau yang lain. Namun demikian, ini masih memerlukan kajian lebih mendalam apakah memang benar dia itu sudah dianggap dalam keadaan darurat (mudhthor) atau justeru ibadah haji menjadi tidak wajib baginya karena dianggap belum mampu (istitho`ah).
Mengingat semakin dekatnya musim haji 1430 H. dan sampai sekarang belum ada kabar Depkes RI telah mendapatkan vaksin meningitis halal. Pemerintah Arab Saudi juga belum mencabut peratuannya mengenai vaksinasi. Maka perlu dikaji secara mendalam kemungkinan vaksin tersebut dapat dihukumi suci dan halal dengan berbagai pendekatan fiqh. Selain pendekatan darurat tentunya.
Dua pertanyaan ini menunggu hasil kajian anda. Fahal min mujiib..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s